Jika
jalan-jalan ke wilayah Sumatera bagian barat, belum lengkap rasanya jika tidak
mengunjungi kota Bukittinggi. Kota yang pada zaman PDRI sempat ditunjuk sebagai
ibu kota Indonesia ini memiliki keindahan alam dan berbagai tempat-tempat
wisata yang sayang untuk dilewatkan. Seperti, Jam gadang yang merupakan ikon kota
Bukittinggi, bahkan ikon Sumatera
Barat itu sendiri, pemandangan Ngarai Sianok yang bisa kita nikmati di kawasan
Panorama, Lobang Jepang sebagai bukti sejarah penjajahan bangsa Jepang ke
Indonesia, Benteng Fort De kock , Kebun binatang, dan lain sebagainya. Tidak heran
jika Bukittinggi di sebut sebagai kota wisata dan banyak dilirik oleh wisatawan,
baik itu wisatawan dalam negri bahkan manca negara. Sebagian orang menyebut
Bukittinggi sebagai Dreamland of
Sumatera, terdengar berlebihan mungkin, tetapi bagi saya pribadi seperti
itulah adanya. Udara yang sejuk, pemandangan indah yang bisa kita lihat, dan
tempat-tempat wisata yang menarik menjadikan Bukittinggi menjadi kota impian
saya. Kota kampung halaman, tempat saya kecil dan dibesarkan, tempat saya
dimana harus kembali suatu saat nanti jika saya mungkin telah terlalu terbuai
dalam hiruk pikuk dunia.
Salah
satu yang mengingatkan banyak orang dengan Bukittinggi adalah Jam Gadang,
keberadaan Jam Gadang ini membuat Bukittinggi menjadi satu-satunya kota yang memiliki
bangunan unik, dengan jam di atas menaranya di Indonesia serta hanya terdapat
dua buah di dunia, yaitu Big beng yang terdapat di kota London. Jam Gadang
terletak di pusat kota Bukittinggi, berdekatan dengan pasar atas serta balai
sidang bung hatta. Jam Gadang terletak di tengah taman, merupakan salah satu
spot tertinggi yang terdapat di kota ini. Dari atas puncak jam Gadang bisa
dilihat berbagai pemandangan indah dengan udara yang sejuk serta hiruk pikuk
sebagian dari kota Bukittinggi.
Jam Gadang
memiliki dua keunikan, yang pertama bagian atapnya yang berbentuk lonjong. Atap
dari Jam Gadang itu sendiri telah beberapa kali berubah bentuk. Pada awal
berdirinya pada tahun 1926, bangunan setinggi 26 M ini memiliki bentuk atap
patung Ayam Jantan, ini merupakan bentuk Jam Gadang pertama kali dibangun pada
saat Indonesia masih di jajah oleh Belanda. Selanjutnya setelah Belanda takluk
pada perang dunia pertama, Indonesia di jajah oleh Jepang, bentuk atap Jam
Gadang juga ikut berubah menjadi bentuk klenteng. Hingga akhirnya Indonesia
merdeka, atap Jam Gadang juga berubah bentuk menjadi Gonjong, yang meniru
bentuk Rumah Gadang Minangkabau. Hal unik kedua dari Jam gadang adalah terletak
dari angka romawi ke-4 yang ditulis “IIII” padahal seharusnya “IV”.
Bukittinggi
bukan hanya kampung halaman, tetapi juga menyimpan banyak kenangan yang akan
tetep di kenang.
Salam
Hangat untuk Bukittinggi, Jam Gadang, dan semua keindahannya ~
![]() |
| (Jam Gadang senja hari) Sumber : google.com |
30 hari kotaku bercerita ~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar