Senin, Juni 16, 2014

Cerita Tak Bertuan

pagi yang mendung dengan udara yang lebih dingin dari biasanya, lumayan menusuk tulang dan membuat kita ingin memakai sebuah jaket untuk menahan dingin ini.Saya duduk bersila di kamar yang menjadi ruangan pribadi saya, tentu saja di rumah saya di kampung halaman, Kota Bukittinggi tercinta, sembari menyalakan leptop uzur yang sudah berumur beberapa tahun. Saya tidak tau berapa pastinya umur leptop ini, yang jelas leptop ini merupakan 'mantan' leptop kakak saya yang diwariskan kepada saya, untuk keperluan saya kuliah. Berapapun usia leptop ini, selagi masih bisa digunakan tak masalah.

Kamar ini sudah menjadi tempat pribadi saya sudah cukup lama, ketika saya masih duduk di bangku SMA, kalau tidak salah. Tidak terlalu luas, tapi saya merasa nyaman berada disini, sangat nyaman. Semula saya menempati kamar di lantai satu, tetapi semenjak kakak pertama saya menikah, kamar saya di bawah ditempati oleh orang tua saya dan saya dipindahkan ke lantai atas. Kamar ini berwarna biru yang sedikit gelap, warna yang lumayan saya sukai setelah warna hitam. Kenapa saya suka warna hitam? karena menurut saya hitam itu elegan. Hitam itu gelap, mungkin saya juga orang yang sedikit gelap, menurut saya. Tidak ada salahnya dengan gelap, karna banyak juga hal yang indah dalam kegelapan. Cahaya juga tidak selamanya akan memancarkan keindahan. Kedua hal itu saling melengkapi, kegelapan itu bayangan, bayangan semakin kuat jika ada cahaya terang, dan bayangan menunjukkan kepada seberapa besar kekuatan cahaya...

Masuk dari pintu ke kamar saya, kita akan menemukan lemari buku, komik dan novel serta harta berharga lainnya bagi saya, sejajar dengan lemari buku ada kasur yang dipannya sudah dilepaskan dan hanya diletakkan di lantai. Di tengah ruangan ada meja bulat (tempat saya saat ini, sembari menyalakan leptop-red). Di sudut kamar lain terdapat dua buah lemari dan satu meja belajar yang tidak terpakai. Meja belajar ini bukan kepunyaan saya sih, lemari yang satu berwarna putih merupakan lemari pakaian saya, lemari kedua lemari yang ditumpangkan di kamar saya, berisi kain gorden dan lain sebagainya yang saya tidak memiliki minat untuk menjelaskannya. Di dinding kamar, diatas lemari buku tertempel poster dari manga/anime yang dulunya sangat saya sukai 'Naruto', dan dua buah poster 'kamen rider' dan di bagian dinding lain, tertempel sebuah kaca untuk melihat pantulan diri kita sendiri di dalam cermin. Jendela kamar yang menghubungkan saya dengan alam luar terletak di tengah-tengah kasur dan meja belajar. Dahulunya dari jendela ini bisa dilihat jalan baypass dan hamparan sawah di sebelah rumah, tetapi sekarang yang bisa di lihat hanya halaman belakang dan tembok bangunan rumah-rumah sebelah yang tinggi menjulang, menghambat pemandangan. Orang-orang mengesalkan yang membangun rumah seenaknya sendiri..

Kadang-kadang, manusia memang ingin seenaknya sendiri. Memaksakan kehendaknya sendiri tanpa mempedulikan apapun dan siapapun. Tidak peduli apa yang dilakukannya akan merugikan orang lain, bahkan banyak orang. Ya itulah manusia sih, kadang-kadang mungkin juga saya seperti itu meski tidak saya sadari atau saya ingini. Itu adalah sifat dasar manusia yang mencari kenyamanan untuk dirinya sendiri...

Back to the topic..
Sebenarnya pagi ini saya tidak memiliki sesuatu yang akan saya bahas di blog ini, seperti postingan-postingan sebelumnya yang sok bijak dan sok menggurui. Postingan sebelumnya hanya agar saya bisa memotivasi diri saya sendiri, agar saya bisa memandang positif tentang kehidupan itu sendiri. syukur-syukur bisa memotivasi dan memengaruhi orang lain.

Belakangan ini, kita sedang marak memperbincangkan calon presiden baru yang akan memimpin Indonesia dalam lima tahun yang akan datang. Ada dua pasang capres dan cawapres tahun ini, yaitu jokowi-JK dan prabowo hatta. Kedua pasangan ini sedang gencar-gencarnya meyakini Indonesia bahwa merekalah yang terbaik, kampanye dan memasang baliho-baliho yang menghiasi jalanan pun dilakukan. Kita berhak memilih salah satu di antara mereka sesuai dengan hati nurani kita sendiri. Tidak terkecuali saya, saya juga telah menentukan pilihan saya sendiri setelah mengamati kedua pasangan tersebut. Mereka dengan kekurangan dan kelebihan mereka masing dan janji mereka demi bangsa Indonesia, kita lihat saja sepak terjang salah satu di antara mereka setelah terpilih nanti. Akankah sesuai dengan visi dan misi yang telah mereka sampaikan? atau hanya omdo alias Omong Doang (ceritanya anak gaul-red XD)

Seperti Indonesia yang akan punya presiden baru, sayapun juga akan punya sesuatu yang baru dan meninggalkan yang lama, apa itu? lets Cekidot :V
1. Semester baru. Semester IV akan segera berakhir, akan ditutup oleh rangkaian-rangkaian ujian yang beberapa telah saya lewati. Tersisa lima mata kuliah, dan setelah itu merdeka dari jeruji semester IV.semester IV itu memorable, seperti nano-nano, manis, asam, asin. Banyak hal yang saya pelajari lagi tentang kehidupan, bukan hanya pelajaran saat duduk mendengarkan cerita dosen..
2. Kost-an baru. Selama 3 bulan saya menempati kamar kosan saya itu, saya merasa saya harus pindah karna ada beberapa ketidakcocokan. Dengan berat hati, dengan rasa sedih mendalam (yang ini bohong) saya harus memutuskan hubungan dengan kosan saya yang juga masih tergolong baru ini. Sayounara kostan depan KUA, terima kasih 3 bulan yang singkat. Jika tidak ada arang melintang saya akan resmi out pada 21 Juni nanti, 3 hari lebih cepat dari hari terakhir di sana yang sebenarnya adalah tanggal 24 juni..

saya rasa sekian hal baru yang akan saya hadapi, dan juga menutup perjumpaan kita pada postingan ini. ~


Minggu, Juni 08, 2014

Beban

pagi ini tergerak buat nulis dan mencoret-coret blog ini, langsung aja "Beban". Sering kali kita terbebani oleh sesuatu, bahkan hal itu sebenarnya gak perlu dijadikan beban. Misalnya sibuk memikirkan proses kita yang lebih lama dari orang kebanyakan, banyak hal-hal yang kita tidak ketahui di banding orang lain, kurang pro nya kita dalam hal yang kita sukai, dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut menjadi 'beban' bagi sebagian orang. Mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang biasa, tapi bagi segelintir orang hal seperti ini tidak biasa, dan tidak jarang mengganggu pikirannya. Dampaknya merasa minder dalam pergaulan, dan pada akhirnya menutup diri dengan dunia luar, atau yang paling buruk menjadi antisosial dan tidak membiarkan orang lain masuk kedalam kehidupannya.

apa yang harus kita lakukan adalah dengan mencoba berfikir positif tentang hidup, tentang manusia yang dilahirkan berbeda-beda untuk masing-masing manusia, bahwa tidak ada satupun manusia dilahirkan sama di dunia ini. Meski banyak kekurangan yang kita miliki, ingatlah bahwa pasti ada banyak atau satu kelebihan lain kita di banding orang lain.

Pernah saya melihat sebuah kalimat dari twitter, kurang lebih "Pasti ada yang lebih kaya, ada yang lebih miskin, ada yang lebih bahagia, ada yang lebih menderita dari kita, di dunia ini selalu ada yang lebih dari kita" ya, selalu ada yang lebih baik dari kita dan selalu ada yang lebih buruk dari kita. Karna itu sebaiknya menjalani hidup ini tanpa menjadikannya sebuah 'beban'. ya, mari sama-sama mencoba, bisa atau tidak tergantung kita.

Sekian, mungkin ini lebih ke motivasi saya untuk diri sendiri, sebagai penyemangat diri sendiri. . .


Jumat, Juni 06, 2014

Analogi hidup. Hidup itu kayak naik bus

Hidup itu kayak naik bus, kita naik bus yang sama di tempat yang sama tapi kita punya tujuan masing-masing, ada kalanya tujuan kita sama, bisa juga tujuan kita berbeda-beda..

Hidup itu kayak naik bus, kita naik bus berbeda di tempat yang berbeda, ketemunya di satu tujuan yang sama..

Hidup itu kayak naik bus, kita naik dengan orang-orang yang kita pilih menemani perjalanan, semula tujuan kita sama, tapi di tengah jalan ada yang gak cocok sama busnya lalu ia turun di tengah jalan padahal belum sampai ke tujuan. Adakalanya kita ikut turun, dan ada juga kita memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan, membiarkan rekan seperjalanan kita turun..

Hidup itu kayak naik bus, kita naik untuk satu tujuan, ditengah jalan bisa ada gangguan-gangguan. Ada kalanya kita memilih untuk meninggalkan bus itu dan mencari bus baru yang akan mengantarkan ke tempat tujuan. Ada juga kalanya kita tetap diam menunggu bus tersebut kembali jalan dan entah kapan..

Hidup itu kayak naik bus, kadang kita suka milih-milih bus padahal tujuan sama, kita menunggu bus yang cocok dan pada akhirnya bus yang kita cari tak kunjung datang. kemudian mungkin kita akan menyesal..

Hidup itu kayak naik bus, kadang kita terburu-buru naik bus yang ada di depan mata, tanpa melihat bahwa ada banyak bus lain di belakang yang bisa kita pilih-pilih untuk dinaiki, yang lebih nyaman dan aman, tapi kita lebih takut ketinggalan bus ke tempat tujuan dan memilih bus yang salah. Sehingga kita mungkin juga akan menyesal..

Hidup itu kayak naik bus, semula bus itu terlihat tidak layak dinaiki, seiring waktu berjalan bus itu mulai terasa nyaman. Ataupun sebaliknya, semula bus itu terlihat nyaman, tapi ternyata di dalam tidak seperti yang terlihat di luar.

ya itulah hidup, seperti naik bus. selalu banyak cara, selalu banyak pilihan, tentu saja ada konsekuensi masing-masing dari pilihan tersebut. Bisa tidak nya kita terima tergantung kita. sampai tidaknya, tergantung kita juga, apakah kita tahan dengan segala yang kita temui di perjalanan? Jika kita tahan, mungkin saja apa yang kita dapatkan di tempat tujuan itu sesuai dengan apa yang kita korbankan. Jika tidak kita mungkin tidak akan pernah sampai ke tempat yang ingin kita tuju, dan akan terus menyesal. Kembali lagi, pilihan ada di tangan kita, bisa saja kita memercayai diri kita sendiri, atau memercayai teman yang mungkin bisa di andalkan tapi tetap tidak pernah ada yang tau hasilnya. Karena itu kita tetap harus memilih pilihan yang tak kan membuat kita menyesalinya.