Kamis, September 03, 2015

Bukittinggi, Kota Impian

Jika jalan-jalan ke wilayah Sumatera bagian barat, belum lengkap rasanya jika tidak mengunjungi kota Bukittinggi. Kota yang pada zaman PDRI sempat ditunjuk sebagai ibu kota Indonesia ini memiliki keindahan alam dan berbagai tempat-tempat wisata yang sayang untuk dilewatkan. Seperti, Jam gadang yang merupakan ikon kota Bukittinggi, bahkan ikon Sumatera Barat itu sendiri, pemandangan Ngarai Sianok yang bisa kita nikmati di kawasan Panorama, Lobang Jepang sebagai bukti sejarah penjajahan bangsa Jepang ke Indonesia, Benteng Fort De kock , Kebun binatang, dan lain sebagainya. Tidak heran jika Bukittinggi di sebut sebagai kota wisata dan banyak dilirik oleh wisatawan, baik itu wisatawan dalam negri bahkan manca negara. Sebagian orang menyebut Bukittinggi sebagai Dreamland of Sumatera, terdengar berlebihan mungkin, tetapi bagi saya pribadi seperti itulah adanya. Udara yang sejuk, pemandangan indah yang bisa kita lihat, dan tempat-tempat wisata yang menarik menjadikan Bukittinggi menjadi kota impian saya. Kota kampung halaman, tempat saya kecil dan dibesarkan, tempat saya dimana harus kembali suatu saat nanti jika saya mungkin telah terlalu terbuai dalam hiruk pikuk dunia.

Salah satu yang mengingatkan banyak orang dengan Bukittinggi adalah Jam Gadang, keberadaan Jam Gadang ini membuat Bukittinggi menjadi satu-satunya kota yang memiliki bangunan unik, dengan jam di atas menaranya di Indonesia serta hanya terdapat dua buah di dunia, yaitu Big beng yang terdapat di kota London. Jam Gadang terletak di pusat kota Bukittinggi, berdekatan dengan pasar atas serta balai sidang bung hatta. Jam Gadang terletak di tengah taman, merupakan salah satu spot tertinggi yang terdapat di kota ini. Dari atas puncak jam Gadang bisa dilihat berbagai pemandangan indah dengan udara yang sejuk serta hiruk pikuk sebagian dari kota Bukittinggi.

Jam Gadang memiliki dua keunikan, yang pertama bagian atapnya yang berbentuk lonjong. Atap dari Jam Gadang itu sendiri telah beberapa kali berubah bentuk. Pada awal berdirinya pada tahun 1926, bangunan setinggi 26 M ini memiliki bentuk atap patung Ayam Jantan, ini merupakan bentuk Jam Gadang pertama kali dibangun pada saat Indonesia masih di jajah oleh Belanda. Selanjutnya setelah Belanda takluk pada perang dunia pertama, Indonesia di jajah oleh Jepang, bentuk atap Jam Gadang juga ikut berubah menjadi bentuk klenteng. Hingga akhirnya Indonesia merdeka, atap Jam Gadang juga berubah bentuk menjadi Gonjong, yang meniru bentuk Rumah Gadang Minangkabau. Hal unik kedua dari Jam gadang adalah terletak dari angka romawi ke-4 yang ditulis “IIII” padahal seharusnya “IV”.

Bukittinggi bukan hanya kampung halaman, tetapi juga menyimpan banyak kenangan yang akan tetep di kenang. 

Salam Hangat untuk Bukittinggi, Jam Gadang, dan semua keindahannya ~



(Jam Gadang senja hari)  Sumber : google.com
                                                      

30 hari kotaku bercerita ~

Kamis, Maret 05, 2015

Dear Pagi

Dear Pagi
 
Hai pagi, selamat datang kembali. Kali ini dirimu terlalu cerah, hingga sinar dari mataharimu memasuki ruangan ini yang sedari tadi malam kutempati dan hanya sesekali diriku beranjak dari tempat ini. Mataharimu hari ini lebih menusuk dari kemarin, mungkin karena kemarin diriku telah beraktivitas sebelum mataharimu terbit semenyengat ini. Orang bilang sinar mataharimu di pagi itu baik untuk kesehatan, tapi tetap saja aku tidak tahan dengan itu dan kalau bisa aku menghindari kontak dengan sinar mataharimu yang menyengat. Maafkan aku pagi, tapi aku tetap menyukaimu.

Pagi, beberapa hari ini, dirimu terlihat cerah, tidak seperti hari sebelumnya yang dirimu seperti hendak menangis, dan kau tahan, lalu akhirnya lepas juga, lalu berhenti lagi, seperti hari minggu kemarin. Hari minggu kemarin hai pagi, apa kau tau diriku sedikit kesal dengan hujan yang kau turunkan? hujan yang menghambatku berpergian ke kota dari hutan Unand yang hiruk pikuk ini. Hujan minggu itu memang menganggu, tapi sejujurnya aku tetap menyukai hujan, aku selalu mendambakan main hujan, jika itu masih di anggap normal dengan usiaku. Tapi itu tidak akan bisa lagi kulakukan. Sebelum lupa, aku tetap berterima kasih atas kedatangan hujan, dan pagi, terima kasih atas hujannya.

Pagi, aku ini seperti dirimu. Datang dengan wajah berbeda-beda di tiap harinya. Terkadang cerah, terkadang mendung, terkadang hujan, bahkan deras. Hanya saja tidak semua orang bisa melihat wajahku, seperti orang melihat wajahmu. Tetapi satu hal aku hanya ingin tetap tegar sepertimu, dan selalu mau datang kembali, selalu hadir setiap harinya meski harus berganti dengan siang dan malam.    

Pagi, terima kasih hari ini telah datang. Sejujurnya aku ingin bercerita banyak, tetapi sepertinya aku harus melanjutkan ceritaku pada siang atau malam, karena aku harus beraktivitas kembali hari ini.

Bye Pagi~ 

salam hangat untukmu,
dari IHSANUL MAHARDIKA