pagi ini tergerak buat nulis dan mencoret-coret blog ini, langsung aja "Beban". Sering kali kita terbebani oleh sesuatu, bahkan hal itu sebenarnya gak perlu dijadikan beban. Misalnya sibuk memikirkan proses kita yang lebih lama dari orang kebanyakan, banyak hal-hal yang kita tidak ketahui di banding orang lain, kurang pro nya kita dalam hal yang kita sukai, dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut menjadi 'beban' bagi sebagian orang. Mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang biasa, tapi bagi segelintir orang hal seperti ini tidak biasa, dan tidak jarang mengganggu pikirannya. Dampaknya merasa minder dalam pergaulan, dan pada akhirnya menutup diri dengan dunia luar, atau yang paling buruk menjadi antisosial dan tidak membiarkan orang lain masuk kedalam kehidupannya.
apa yang harus kita lakukan adalah dengan mencoba berfikir positif tentang hidup, tentang manusia yang dilahirkan berbeda-beda untuk masing-masing manusia, bahwa tidak ada satupun manusia dilahirkan sama di dunia ini. Meski banyak kekurangan yang kita miliki, ingatlah bahwa pasti ada banyak atau satu kelebihan lain kita di banding orang lain.
Pernah saya melihat sebuah kalimat dari twitter, kurang lebih "Pasti ada yang lebih kaya, ada yang lebih miskin, ada yang lebih bahagia, ada yang lebih menderita dari kita, di dunia ini selalu ada yang lebih dari kita" ya, selalu ada yang lebih baik dari kita dan selalu ada yang lebih buruk dari kita. Karna itu sebaiknya menjalani hidup ini tanpa menjadikannya sebuah 'beban'. ya, mari sama-sama mencoba, bisa atau tidak tergantung kita.
Sekian, mungkin ini lebih ke motivasi saya untuk diri sendiri, sebagai penyemangat diri sendiri. . .
Minggu, Juni 08, 2014
Jumat, Juni 06, 2014
Analogi hidup. Hidup itu kayak naik bus
Hidup itu kayak naik bus, kita naik bus yang sama di tempat yang sama tapi kita punya tujuan masing-masing, ada kalanya tujuan kita sama, bisa juga tujuan kita berbeda-beda..
Hidup itu kayak naik bus, kita naik bus berbeda di tempat yang berbeda, ketemunya di satu tujuan yang sama..
Hidup itu kayak naik bus, kita naik dengan orang-orang yang kita pilih menemani perjalanan, semula tujuan kita sama, tapi di tengah jalan ada yang gak cocok sama busnya lalu ia turun di tengah jalan padahal belum sampai ke tujuan. Adakalanya kita ikut turun, dan ada juga kita memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan, membiarkan rekan seperjalanan kita turun..
Hidup itu kayak naik bus, kita naik untuk satu tujuan, ditengah jalan bisa ada gangguan-gangguan. Ada kalanya kita memilih untuk meninggalkan bus itu dan mencari bus baru yang akan mengantarkan ke tempat tujuan. Ada juga kalanya kita tetap diam menunggu bus tersebut kembali jalan dan entah kapan..
Hidup itu kayak naik bus, kadang kita suka milih-milih bus padahal tujuan sama, kita menunggu bus yang cocok dan pada akhirnya bus yang kita cari tak kunjung datang. kemudian mungkin kita akan menyesal..
Hidup itu kayak naik bus, kadang kita terburu-buru naik bus yang ada di depan mata, tanpa melihat bahwa ada banyak bus lain di belakang yang bisa kita pilih-pilih untuk dinaiki, yang lebih nyaman dan aman, tapi kita lebih takut ketinggalan bus ke tempat tujuan dan memilih bus yang salah. Sehingga kita mungkin juga akan menyesal..
Hidup itu kayak naik bus, semula bus itu terlihat tidak layak dinaiki, seiring waktu berjalan bus itu mulai terasa nyaman. Ataupun sebaliknya, semula bus itu terlihat nyaman, tapi ternyata di dalam tidak seperti yang terlihat di luar.
ya itulah hidup, seperti naik bus. selalu banyak cara, selalu banyak pilihan, tentu saja ada konsekuensi masing-masing dari pilihan tersebut. Bisa tidak nya kita terima tergantung kita. sampai tidaknya, tergantung kita juga, apakah kita tahan dengan segala yang kita temui di perjalanan? Jika kita tahan, mungkin saja apa yang kita dapatkan di tempat tujuan itu sesuai dengan apa yang kita korbankan. Jika tidak kita mungkin tidak akan pernah sampai ke tempat yang ingin kita tuju, dan akan terus menyesal. Kembali lagi, pilihan ada di tangan kita, bisa saja kita memercayai diri kita sendiri, atau memercayai teman yang mungkin bisa di andalkan tapi tetap tidak pernah ada yang tau hasilnya. Karena itu kita tetap harus memilih pilihan yang tak kan membuat kita menyesalinya.
Hidup itu kayak naik bus, kita naik bus berbeda di tempat yang berbeda, ketemunya di satu tujuan yang sama..
Hidup itu kayak naik bus, kita naik dengan orang-orang yang kita pilih menemani perjalanan, semula tujuan kita sama, tapi di tengah jalan ada yang gak cocok sama busnya lalu ia turun di tengah jalan padahal belum sampai ke tujuan. Adakalanya kita ikut turun, dan ada juga kita memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan, membiarkan rekan seperjalanan kita turun..
Hidup itu kayak naik bus, kita naik untuk satu tujuan, ditengah jalan bisa ada gangguan-gangguan. Ada kalanya kita memilih untuk meninggalkan bus itu dan mencari bus baru yang akan mengantarkan ke tempat tujuan. Ada juga kalanya kita tetap diam menunggu bus tersebut kembali jalan dan entah kapan..
Hidup itu kayak naik bus, kadang kita suka milih-milih bus padahal tujuan sama, kita menunggu bus yang cocok dan pada akhirnya bus yang kita cari tak kunjung datang. kemudian mungkin kita akan menyesal..
Hidup itu kayak naik bus, kadang kita terburu-buru naik bus yang ada di depan mata, tanpa melihat bahwa ada banyak bus lain di belakang yang bisa kita pilih-pilih untuk dinaiki, yang lebih nyaman dan aman, tapi kita lebih takut ketinggalan bus ke tempat tujuan dan memilih bus yang salah. Sehingga kita mungkin juga akan menyesal..
Hidup itu kayak naik bus, semula bus itu terlihat tidak layak dinaiki, seiring waktu berjalan bus itu mulai terasa nyaman. Ataupun sebaliknya, semula bus itu terlihat nyaman, tapi ternyata di dalam tidak seperti yang terlihat di luar.
ya itulah hidup, seperti naik bus. selalu banyak cara, selalu banyak pilihan, tentu saja ada konsekuensi masing-masing dari pilihan tersebut. Bisa tidak nya kita terima tergantung kita. sampai tidaknya, tergantung kita juga, apakah kita tahan dengan segala yang kita temui di perjalanan? Jika kita tahan, mungkin saja apa yang kita dapatkan di tempat tujuan itu sesuai dengan apa yang kita korbankan. Jika tidak kita mungkin tidak akan pernah sampai ke tempat yang ingin kita tuju, dan akan terus menyesal. Kembali lagi, pilihan ada di tangan kita, bisa saja kita memercayai diri kita sendiri, atau memercayai teman yang mungkin bisa di andalkan tapi tetap tidak pernah ada yang tau hasilnya. Karena itu kita tetap harus memilih pilihan yang tak kan membuat kita menyesalinya.
Langganan:
Postingan (Atom)